Tuesday, July 06 2010
"The Lord God took the man and put him in the Garden of Eden to work it and take care of it." Genesis 2:15
"TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu." Kejadian 2:15
Man was created to have seven basic needs. Each of us has a need for dignity, authority, blessing and provision, security, purpose and meaning, freedom and boundary, intimate love and companionship. When we go outside God's provision to meet these needs, we get into trouble.
Manusia diciptakan untuk memiliki tujuh kebutuhan dasar. Setiap kita memiliki kebutuhan martabat, wewenang, berkat dan penyediaan, keamanan, tujuan dan makna, kebebasan dan batas, cinta dan persahabatan intim. Ketika kita mencukupkan kebutuhan tersebut diluar ketentuan Allah agar kebutuhan ini terpenuhi maka kita punya masalah.
Every man has a need to work and gain satisfaction in caring and seeing something come from his efforts. Many of our basic needs are derived from our work; it was one of the first acts God did for man in the Garden of Eden. He gave him responsibility to care for and work the Garden. God knew man needed to be productive. He needed to gain satisfaction from his work.
Setiap orang memiliki kebutuhan untuk bekerja dan mendapatkan kepuasan dalam merawat dan melihat sesuatu yang berasal dari usahanya. Banyak kebutuhan dasar kita berasal dari pekerjaan kita, itu adalah salah satu tindakan pertama yang Allah lakukan untuk manusia di Taman Eden. Dia memberinya tanggung jawab untuk merawat dan mengusahakan Taman Eden. Allah tahu bahwa manusia harus produktif. Dia harus mendapatkan kepuasan dari pekerjaannya.
The danger of this is when we allow our work to be our complete source of purpose and meaning in life. This leads to a performance-based life. A performance-based life says, "As long as I perform in my work, I am acceptable to myself and others." This is a subtle trap for all of us. It can lead us to become workaholics if we are seeking acceptance through what we do. Sometimes this can be on a subconscious basis.
Bahaya akan hal ini adalah ketika kita membiarkan pekerjaan kita menjadi sumber lengkap dari tujuan dan makna dalam kehidupan. Hal ini menyebabkan kehidupan berbasis kinerja. Sebuah kehidupan berbasis kinerja mengatakan, "Selama saya melakukan pekerjaan saya, saya diterima untuk diri sendiri dan orang lain." Ini adalah jebakan halus untuk kita semua. Hal ini dapat membawa kita menjadi pecandu kerja jika kita mencari penerimaan melalui apa yang kita lakukan. Kadang-kadang hal ini terjadi di dasar alam bawah sadar.
Our value must be centered in Christ, not in what we do. If we lose our job or our business, this should not devastate us if we are centered in Him. It will certainly create difficulties, but God is the orchestrator of all the events in our lives for His purposes. Even difficult times have purposes.
Nilai yang kita anut seharusnya berpusat di dalam Kristus, bukan dalam apa yang kita lakukan. Jika kita kehilangan pekerjaan kita atau usaha kita, ini tidak harus menghancurkan kita jika kita berpusat di dalam Dia. Hal ini tentu akan menciptakan kesulitan, tetapi Allah adalah komposisi orkestra dari semua kejadian dalam hidup kita untuk tujuan-Nya. Situasi sulit pun memiliki tujuan-tujuan.
Hari ini, minta Tuhan jika Anda memiliki keseimbangan yang tepat dalam kehidupan kerja Anda. Apakah Kristus menjadi pusat fokus? Jika Anda bekerja berjam-jam, tanyakan pada diri sendiri apa penyebabnya? Anda mungkin menemukan bahwa Tuhan tidak menjadi fokus utama.